Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Kalau Cinta Jangan Gengsi

Kalau Cinta Jangan Gengsi

“Jangan macam-macam Langit. Sebentar lagi aku keluar. Cerewet!” Bulan yang selesai membersihkan tubuhnya, mengambil mantel mandi dan mengikat talinya dengan kencang. Bulan memukul kepalanya pelan, sebab dengan tak tahu dirinya, pikirannya berpikir tentang hal yang mengandung adegan delapan belas ke atas. “Brengsek, gara-gara minum, banyak coretan cerita baru di benakku.” Bulan keluar dengan handuk yang melilit kepalanya. Lehernya yang putih dan jenjang tampak terlihat begitu menggoda.
3.7K viewsCompletedAdded to Library 93 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Pendekar Sabre

Pendekar Sabre

Tetapi pemandangan saat malam jauh lebih indah. Apalagi saat ini bulan sedang masa purnama. Bulan purnama itu menyorot tubuh Zizi dan Lan Feiyu. Senyum kecil terukir di bibir Lan Feiyu yang masih mendongakkan kepalanya, menikmati indahnya bulan purnama dan bunga-bunga kertas yang berjatuhan mengenai tubuhnya. Juga alunan merdu dari seruling Zizi yang mendayu-dayu membuat batin Lan Feiyu terasa tenang.
1015.5K viewsCompletedAdded to Library 465 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Selubung Memori

Selubung Memori

“Menurutku, kau bulan.” “Hm?” Senyumnya mulai miring. “Mau merayu?” “Semua tipe bulan, mau yang sabit atau purnama.” “Memangnya kenapa?” “Entah. Mereka selalu mekar waktu malam. Kelihatan yang paling bersinar, mencolok, warnanya yang paling beda. Sama sepertimu.” Dia tertawa ceria. “Makasih. Tapi kalau begitu, kau matahari.”
1019.4K viewsOngoingAdded to Library 408 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Rembulan di Langit Kinanah

Rembulan di Langit Kinanah

Misi selanjutnya adalah bisa langsung terjun untuk membuktikan apa yang dibacanya dan apa yang didengarnya tentang Indonesia. Zea tersenyum. Baginya sebuah kebahagiaan itu sangat sederhana; mampu membuat orang lain bahagia. Di hadapannya kini seorang gadis Mesir tampak bahagia memandangi setiap inchi lukisan sederhana yang dibuatnya beberapa bulan lalu. Sebenarnya, lukisan itu sudah sejak beberapa bulan lalu ingin dia berikan kepada Azeneth, hanya saja keduanya sama-sama sibuk sehingga belum ada kesempatan bertemu, dan akhirnya mereka baru sempat bertemu saat ini.
2.1K viewsOngoingAdded to Library 42 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Rembulan yang Terluka

Rembulan yang Terluka

Bahkan aku yang jarang tersenyum, tanpa terasa bibir ini terangkat dengan sendirinya. "Couple atau yang biasa Mas?" tanyanya lagi. *Couple* mungkin itu akan terlihat bagus. Pikirku "Bisa lihat yang couple?" Pasti itu akan lebih berkesan. Aku mengambil kalung dengan liontin bulan sabit yang didalamnya terdapat bintang. Sekilas, kalung itu hanya satu kesatuan, namun jika dipisah, ada bulan dan bintang.
105.7K viewsOngoingAdded to Library 205 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Putri Jahat Itu Menjadi Waras

Putri Jahat Itu Menjadi Waras

Ia mengangguk secara samar beberapa kali dan tersenyum, sebagai respon jika kudapan tersebut sesuai dengan selera lidahnya. Saat hendak meletakkan kembali kuenya, pupil mata Ruyu kemudian menangkap sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding ruangan kediaman. Lukisan menggambarkan kelopak bunga plum beterbangan dan siluet seorang gadis menari dengan kain selendang melayang di bawah cahaya bulan. Ia menatap lekat lukisan yang ia buat sendiri. “Lukisan itu…” gumamnya pelan.
102.5K viewsOngoingAdded to Library 91 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Bayang Pedang Cahaya Bulan

Bayang Pedang Cahaya Bulan

Suasana yang tidak ramah, tetapi juga tidak secara aktif bermusuhan, lebih seperti sebuah komunitas tenang yang tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang tidak termasuk dalam jadwal harian mereka. Buronan. Darah. Pasukan kekaisaran di luar gerbang. Bukan jenis tamu yang biasa datang ke Sekte Bulan Sabit. Yue Chen menatap dinding batu celah di hadapannya, menatap ukiran-ukiran kecil yang hampir tidak terlihat tanpa cahaya obor, bulan sabit yang berulang dalam berbagai ukuran, memenuhi seluruh permukaannya dengan gambaran bulan dalam berbagai fase, seolah cahaya tidak pernah benar-benar utuh, hanya berganti bentuk dari waktu ke waktu.
10810 viewsOngoingAdded to Library 16 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Di Balik Gunung, Ada Bulan yang Menunggu

Di Balik Gunung, Ada Bulan yang Menunggu

Putri bungsuku menepuk lenganku sambil bertanya penuh semangat, “Lalu bagaimana, Mama? Setelah itu bagaimana?” Aku dan Tomi saling bertukar senyum. “Setelah itu… lahirlah kalian, tiga bocah kecil yang selalu bikin rumah ini ramai.” Angin malam berhembus, membawa aroma bunga gardenia. Saat itu aku sadar, semua luka, penderitaan, dan air mata di masa lalu… benar-benar hilang bersama angin. [Tamat]
5.6K viewsCompletedAdded to Library 213 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Pengantin Dari Dunia Gaib

Pengantin Dari Dunia Gaib

Di dadanya, perasaan yang sama muncul kembali—bukan panik, melainkan kewaspadaan yang terlatih. “Bulan tidak lagi mengikuti fasenya,” katanya pelan. Raka mengangguk, wajahnya tegang. “Seharusnya hampir purnama. Tapi… seperti ada potongan yang tertahan.” Laksmi datang membawa mangkuk tanah dan air, simbol lama yang jarang ia gunakan. “Karena yang ditahan bukan cahaya,” katanya. “Melainkan waktu yang mengisi cahaya itu.”
7837 viewsOngoingAdded to Library 19 Times as lukisan bulan
Read
+Library
Jangan Menangis, Nona! Tuan Muda Akan Memanjakanmu

Jangan Menangis, Nona! Tuan Muda Akan Memanjakanmu

Mereka menuju pada seorang wanita yang duduk di bangku taman, di dekat air mancurnya dan menghadap pada sebuah kanvas berukuran cukup besar. "Woaah ... cantik sekali!" Maureen yang pertama memuji. "Itu gambar bulan di saat musim semi." "Lukisan Kakak sangat hebat!" Si perempuan itu menoleh pada kembar tiga dan bangun. Senyumnya terkembang, tangannya bergerak, melambai seolah sedang menyapa. Samantha yang berdiri di samping Damien merasa seperti pernah melihatnya.
9.535.3K viewsCompletedAdded to Library 1.1K Times as lukisan bulan
Read
+Library
PREV
1234569
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status