Hajatan di Rumah Ibu
"Kita ke rumah Nenek, yuk! Kata Ibunya Diah, Nenek motong banyak kambing,"
Aku terdiam. Dadaku semakin terasa sesak. Awalnya aku mengira Bu Marni hanya membual. Tapi, setelah mendengar cerita anak-anakku, kenyataan itu menjadi terlalu pahit untuk diabaikan.
Tanpa sadar, air mata mulai menetes di pipiku. Satu per satu, hingga akhirnya mengalir deras.
"Bu, kenapa menangis?" tanya Adnan lembut. Tangannya yang kecil mengusap pipiku, mencoba menghapus air mata yang tak kunjung berhenti.
Hot Chapters