Perjalanan Patah Hati
sapanya sopan.
“Kalau gitu, kita ke rumah saya sekarang, Kak? Biar bisa cepat istirahat,” usul Rahman. Yang disambut anggukan semangat oleh Asta.
Hanya butuh waktu lima belas menit mengekor Rahman dan Arip yang menggunakan sepeda motor, menunjukkan arah menuju rumahnya. Sebuah perkampungan di antara jalan selebar empat meter, dengan rumah-rumah berdesain sederhana – fasad tembok seadanya, pintu dan jendela kayu, atap genteng segitiga, beberapa menggunakan teras dengan kanopi genteng yang disanggah seadanya dari pilar beton yang tipis – tanpa pagar, dengan halaman luas dikelilingi semak-semak yang rapi. Seragam seperti itu dari depan gang hingga Rahman membelokkan motornya masuk ke pekarangan
Hot Chapters