BUKAN MENANTU KAYA
"Dek ...“
Sentuhan lembut di bahu juga suara Mas Hasan membuatku mengerjap pelan. Mas Hasan membawa sepiring martabak coklat kacang kesukaanku.
“Beli martabak di mana, Mas?“ tanyaku. Mas Hasan terkekeh ringan.
“Ini martabak buatan Adek. Mas tadi nyoba, eh teksturnya pas. Ayo dicobain, Dek. Mas mau bikin lagi buat Bapak-bapak tukang becak,“ jawabnya jelas.
Aku menelisik martabak itu. Penampilannya sudah oke. Entah dengan rasa dan teksturnya. Tapi di gigitan pertama, aku langsung jatuh cinta. Rasanya mantap, aroma margarinenya begitu menguar, teksturnya juga pas. Alhamdulillah, kali ini kami berhasil. Khalid pun memakannya sambil mangut-mangut.
Aku segera menggendongnya, lalu turun menghampiri
Bab Populer