Hati Yang Tak Pasti
Gia mengangguk-angguk, mengalihkan pandangannya ke mana saja asal bukan kepada manik mata Jesatya yang selalu menyejukkan, bahkan saat ini sekalipun.
“Kamu yang ngomong. Ke Mami, ke Mama ... ke semuanya, Je.”
“Enggak.” Jesatya menolak. Jika saja mengatakan hal ini terasa gampang, maka sejak dulu Jesatya akan mengatakannya, tanpa harus Gia yang minta. “Enggak bisa, Gia. Inget, delapan bulan lalu? We’ve tried, didn’t we? Tapi ... Enggak bisa, ‘kan?”
Hot Chapters