CINTA yang TERSAKITI
tegur Bapak Marsya galak.
Marsya membalikkan badan dan tatapannya bertemu dengan mata Bapaknya yang menyala, karena marah. “Maaf, Pak! Marsya janji ini yang terakhir pulang ke rumah terlambat. Marsya juga janji tidak akan minum-minum lagi.” Marsya, kemudian menundukkan kepala, karena ia tidak berani menatap mata Bapaknya lama-lama.
Terdengar suara tarikan napas berat dari Bapak Marsya. “Bapak menegurmu, karena kamu putri Bapak satu-satunya dan Bapak tidak mau kamu terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.”