Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda
Hangat dan pasti, berbeda jauh dari dinginnya air kolam.
Aku melirik Aaron, yang hanya berdiri mematung. Tidak mengejar. Tidak memanggil. Hanya menatap, dengan wajah yang tak lagi bisa kusebut tenang—lebih seperti seseorang yang baru sadar telah kehilangan sesuatu, tapi terlambat untuk meraih kembali.
Aresh menepuk bahu Aaron sekali, singkat.
“Kadang, diam juga sebuah pilihan. Dan pilihan itu punya akibat.”