Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mata Elang

Mata Elang

Sebelumnya dia melepas lapban yang menutupi mulut Arka. “Byurr!!” Jon menyiram muka Arka dengan air, dia berhasil ketika mendengar Arka berseru, “Tolong!!! Banjiiirrr!!!” “Hei bangun!!! Banjir pala Lu petak!!! Cepat!!!” seru Jon. Arka segera berdiri dengan susah payah, saat dia mencoba bergerak tidak ada usaha yang membuahkan hasil. “Bang, bagaimana mau jalan!! Lihatlah kakiku masih terikat!!” ucap Arka.
108.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 278 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Kinara Setengah Manusia Setengah Burung

Kinara Setengah Manusia Setengah Burung

kata Kinara memberi instruksi. “Fokus ya! Hati-hati, jika tergelincir bisa berakibat fatal!” Rhara berteriak dari ujung depan. Perjalanan kali ini tidak semudah sebelumnya. Mereka bertiga berjalan lambat. Tangan Kinara berpegang pada akar-akar pohon yang bermunculan di sekitar tebing. Ia mencoba melihat ke bawah. Sungguh mengerikan. Bawah jurang dialiri lava pijar berwarna orange. Seberang jurang merupakan bebatuan yang runcing. Kaki Kinara kesemutan. Mungkin terlalu lelah karena sudah terbiasa terbang.
109.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 189 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Dua Sisi

Dua Sisi

Tatapannya kemudian bertemu dengan sepasang mata coklat madu yang balas menatapnya hangat. "Jangan takut. Ayo pegang ini. Dan tapakkan kakimu dengan mantap. Berdirilah dengan tegak. Rileks 'kan tubuhmu. Nah, seru kan? Tangganya bisa berjalan sendiri. Dan ini disebut dengan eskalator. Sekarang langkahkan kami kamu selangkah lebih lebar. Nah kamu sudah sampai di atas. Mudah kan, gadis kecil?"
1030.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Kaisar Naga Beladiri S3 : Perjalanan Dewa Tian

Kaisar Naga Beladiri S3 : Perjalanan Dewa Tian

Ucap Tian Sen dengan nada dingin memikirkan sosok yang sudah lama mengganggunya semenjak kecil. Kaki Tian Sen terus menaiki anak tangga dan dalam satu jam, anak tangga ke tujuh ratus di lewati oleh Tian Sen padahal dua peserta yang unggul tadi hanya bisa sampai di anak tangga enam ratus sepuluh. Itu pun mereka benar-benar bersusah payah untuk naik sampai tubuh mereka terluka tapi Tian Sen hanya berkeringat setelah naik ke anak tangga tujuh ratus yang membuat mereka sangat iri dengan bakat TIan Sen tersebut. Tapi TIan Sen tidak lagi memandang ke belakang atau ke atas, tatapannya lurus ke depan, setiap langkahnya pasti dan tidak ada kekurangan tekanan di setiap langkah itu. Setengah hari lagi
9.6275.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.9K kali sebagai menerjang
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Hamfa Merman
Kisah seorang anak yang dikucilkan menjadi seorang Pendekar hebat bergelar Kaisar hanya di novel berjudul PENDEKAR KAISAR RASKAR. Dijamin seru, menegangkan, dan baku hantam serta adu mulut pun ada. Silahkan dicek ya, he-he-he!
Mr. Mystery
Izin Promosi Thor Bagi kalian yang suka membaca kultivator yang benar-benar realistis, dimulai dari manusia biasa/fana yang menjadi legenda. Tanpa embel-embel keluarga/klan atau pelindung di belakangnya... Yuk baca "Benih Dao Kekacauan" 🫡🫡
Baca Semua Ulasan
BERUANG GUNUNG ALTAY

BERUANG GUNUNG ALTAY

Raka menggulung peta, menyerahkan kembali ke Kirei. "Jadi pengen tahu yang namanya jeram itu kayak apa sih?" kicau Maysha. "Jeram itu aliran air yang sangat deras, mau tahu derasnya kayak apa?" pandang Jonan. "Derasnya kayak sumpah serapah korban petualangan cinta kamu, bisa mati kelelep sekedipan." Maysha tersenyum sinis. "Kirain derasnya kayak makian cewek yang kena ghosting kamu."
108.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 216 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Tetanggaku Rajin (Minta)

Tetanggaku Rajin (Minta)

“Gak!” “Elu ajarin gue, kek!” “Terlambat sudah! Sono balik! Aku mau mandi.” “Gak, ah. Gue di sini aja. Laki gue lagi pergi sama si Jiel. Cari tempat bakal warteg. Mau cari yang tempatnye bagus, strata tiga.” “Strata tiga? Apaan?” tanyaku bingung. “Itu, looh, yang tempatnya enak dilihat, mudah dijangkau, lokasinye pas, gituuuh!”
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 201 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Mimpi Cinderella

Mimpi Cinderella

kebelet pipis! Jedag jedug jedag jedug jedag jedug, detak jantungku terdengar berirama. Seperti irama zumba, salsa, chacha, atau ... kayanya lebih mirip jaipongan deh. Selangkah, dua langkah, beberapa langkah lagi, aku akan melewati ruangan Pak Mahendra. Rasanya ingin seperti di film-film itu, langkahku dibuat slow motion atau kalau perlu di-pause dulu untuk beberapa detik. Agar dia melihatku lewat di depan ruangannya.
107.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 237 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
MEREKA BEBAS KETIKA KALIAN MATI

MEREKA BEBAS KETIKA KALIAN MATI

AAAAARGH. Jazlan pun langsung bergerak dengan cepat, secepat yang ia bisa, naik ke atas melewan arus barang barang yang terus roboh ke bawah. Ketika sudah sampai di ujung tumpukan barang. Saat itu, Jazlan tetap memaksakan diri melompat. “Sial!” umpat Jazlan yang mengetahui bahwa tangannya tidak akan sempat menggapai dinding bagian atas.
1010.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 278 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
The Story of Jawata: Pusaka Ajaib

The Story of Jawata: Pusaka Ajaib

Serpihan kelopak-kelopak emas bertebaran di sekitar tubuhnya melayang ringan di udara. "Hup!" Sekali gerakan kaki Taja menginjak batu, lantas tubuhnya terpantul lagi ke atas dan semakin ke atas. Berpijak lagi ke bebatuan lebih tinggi, Taja melambung tinggi. Sampai pada batas paling atas tepi jurang berhimpitan. Taja melayang, berputar-putar sekitar dinding bebatuan jurang. Tidak tampak jalan keluar kemanapun. Hanya jurang dan jurang lagi dalam gulita pekat.
109.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 268 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Terjebak Jurang Penyesalan

Terjebak Jurang Penyesalan

Shella tiba-tiba menjerit dan jatuh ke lantai sambil memegangi kakinya. Aku terkejut dan membuang air di tanganku, lalu menatapnya dengan cemas, "Ada apa?" "Kakiku kram. Ayah Kina, bisakah kamu bantu memijatnya?" Dia menatapku dengan polos. Ini kesempatan bagus untuk bisa mendekatinya. Aku tidak menolak, tanganku yang besar menyentuh betisnya dan mulai meremasnya. Kulitnya begitu halus dan lembut sehingga aku tidak berani mengerahkan tenaga karena takut melukainya.
4.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 133 kali sebagai menerjang
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status