Bayang Pedang Cahaya Bulan
Bukan kebanggaan yang berteriak, bukan kebanggaan yang menuntut untuk dipuji, melainkan kebanggaan yang diam, yang tenang, yang justru karena diamnya, terasa jauh lebih nyata daripada pujian mana pun yang pernah ia dengar seumur hidupnya.
Ia bangkit perlahan, tidak stabil, namun tetap berdiri. Langkahnya membawanya menuju jendela kecil, jendela yang tidak menghadap ke mana pun kecuali dinding batu di seberangnya, namun tetap menyisakan celah sempit, cukup lebar untuk sepotong langit malam, sepotong kecil dari dunia luar yang masih ada di sana, menunggu.