Ada sesuatu yang magis tentang cara diam bisa bicara lebih keras daripada kata-kata saat menyangkut perasaan. Aku sering menemukan diriku tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana seseorang membuat hatiku berdebar tanpa mereka sadari. Misalnya, ketika mereka sedang asyik membaca buku di sudut kafe, dengan rambut sedikit berantakan diterpa angin, dan matanya berbinar setiap kali membalik halaman—aku bisa diam-diam berpikir, 'Dunia terasa lebih tenang hanya karena kau ada di dalamnya.'
Kadang kekaguman itu muncul dalam hal-hal kecil, seperti bagaimana mereka menggulung lengan baju sambil memasak atau tertawa lepas saat bercanda dengan teman. Aku mungkin tak pernah mengatakannya langsung, tetapi di kepalaku selalu ada kalimat seperti, 'Kau adalah alasan mengapa senja terlihat lebih indah hari ini.' Atau saat mereka membantu orang lain tanpa pamrih, hatiku berbisik, 'Lihatlah, kau bahkan membuat kebaikan terlihat seperti seni.'
Lalu ada momen ketika mereka sedang serius mengerjakan sesuatu, alis sedikit berkerut, dan bibir komat-kamit membaca instruksi. Di saat seperti itu, aku ingin sekali berkata, 'Aku takjub bagaimana kau bisa membuat hal rumit terlihat sederhana,' tapi akhirnya hanya tersimpan sebagai kenangan manis. Atau ketika mereka mengenakan baju warna favoritku, dan tiba-tiba seluruh ruangan seolah menyala—aku diam-diam berharap mereka tahu betapa mereka membuat hari-hariku lebih cerah.
Yang paling romantis justru ketika mereka tidak melakukan apa pun. Hanya duduk di sebelahku, mungkin sedang mengamati langit atau memainkan jarinya di atas meja. Di saat-saat itu, diamku berteriak, 'Aku bersyukur bisa berada di sisimu, bahkan tanpa kata-kata.' Rasanya seperti menemukan puisi terindah yang tak perlu diucapkan, karena bahasa diam terkadang lebih jujur daripada ribuan kata puitis.