Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda
“Kalau kamu nekat bergerak, aku akan marah.”
“Tapi kamu tidak pergi,” balasnya cepat. “Itu berarti aku masih boleh sedikit nakal.”
Aku tertawa pelan, gugup. “Sedikit saja.”
Ia akhirnya menyentuh bibirku dengan kecupan ringan, singkat, nyaris seperti pertanyaan. Bukan ciuman yang dalam, tapi cukup untuk membuat kepalaku terasa ringan.
“Begini saja,” katanya setelahnya, dahi kami hampir bersentuhan. “Aku tidak butuh lebih. Aku cuma ingin merasa kamu nyata, bukan mimpi dari obat penenang.”