KAMAR KEDUA
Suara percakapan orang lain hanya menjadi latar, cukup jauh untuk tidak mengganggu.
Ia duduk dengan punggung tegak, satu tangan menyentuh gelas air tanpa benar-benar meminumnya. Tatapannya sesekali beralih ke pintu masuk, tapi pikirannya tidak berada di ruangan itu.
Ia sedang menyusun kalimat.
Bukan pertanyaan, tapi kalimat.
Karena ia tahu, satu pertanyaan yang terlalu lurus … bisa menutup percakapan sebelum benar-benar dimulai.