Suami Pelarian
Terlalu tenang, hanya bola matanya yang bergerak ke sana ke mari, dan kelopak mata yang berkedip-kedip menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Ah, suamiku cemburu! Imutnya!
"Tentu tidak begitu, suamiku sayang!" Dengan gemas kupencet hidungnya seperti menekan tombol power yang menghidupkan kembali senyum di wajahnya.
"Aku punya suami yang tampan, gagah, baik hati, perhatian, setia, dan sayang kepadaku. Kurang apa lagi coba?" tegasku agar dia yakin aku tidak merindukan masa lalu yang semu, dan tak bisa diperbaiki.
الفصول الرائجة