Here are 24 novels related to ojiro aran for you to read online. Generally, ojiro aran or similar novel stories can be found in various book genres such as Romansa, Historical and Fantasi. Start your reading from Tuan Arrogan at GoodNovel!
Tentu gadis itu dibuat bingung sebenarnya ada apa dengan tuan arrogan itu dengan mudahnya sekarang bicara lembut padanya.
Mysel memberanikan diri mengangkat pandangannya yang tadi terbenam sedikit mendongakkan wajah ke atas karena Nicko mempunyai postur tubuh yang tinggi.
Mysel mendapati sosok dengan raut wajah yang terpahat nyaris sempurna, membuat matanya tidak berkedip terpesona akan ketampanan wajah tuan arrogan yang berdiri dihadapannya.
Tetapi demi melancarkan aksinya, Tuan Ozuru berpura-pura bahagia mendengar berita ini, wajah dipaksa tersenyum seperti yang dilakukan wakilnya.
“Benarkah? Terima kasih Tuan Ikada, telah sudi menerima Mirae dalam keluarga kalian dan memperlakukannya dengan sangat baik,” ucap Tuan Ronin. “Anak muda, siapa namamu?”
“Yosihara.”
“Yosihara, terima kasih telah mencintai Mirae dengan sungguh-sungguh. Aku senang—”
“Baik, Madam.”
"Kita nyanyi, Kangen, yuk," ajak Wati sambil tersenyum manis.
Wati mulai menyanyi dengan nada rendah. Ya, karena suara Ari Lasso sebagai vokalis utama band Dewa itu memiliki timbre suara yang sangat rendah.
Seiring berjalannya waktu, memang suara Ari sedikit meninggi dan semakin powerful.
Ketika pada syair yang berbunyi; Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya menahan rasa ingin jumpa ....
Dan tuan Arfan menganggapku adalah orang itu dan masa keemasan ini akan segera berganti dengan kemunduran yang pesat karena itu pula tuan Arfan mengangkatku sebagai murid nomer satunya dan mengajarkan semua yang dia ketahui padaku.
>>
Tuan Arfan melihat batu yang di bentuk sedemikian rupa sebagai penunjuk waktu yang mengandalkan sinar matahari jam sudah menunjuk pukul sembilan tapi Artur tak juga bangun.
Walau tuan Arfan adalah seorang pejuang dan seorang yang berilmu tinggi namun dia seorang yang sangat lucu dan suka bertingkah sembrono.
Karena tau sudah siang namun Artur belum bangun dia menyuruh semua muridnya berkumpul dan masuk ke kamar Artur untuk berakting sedih seakan-akan Ken sudah
“Siapa lelaki yang bersamamu tadi siang, Fira?” lanjut Gilang bertanya.
“Hanya seorang investor dari Jepang yang ingin berinvestasi di klinik.”
“Bukan pria Jepang itu. Tapi pria yang datang bersamamu dan memperlakukanmu dengan penuh perhatian. Bukankah pria itu juga ada di pesta pernikahan kita waktu itu?”
“Oh, dia dr. Felix.”
Long Wei balas bertanya tanpa menghiraukan perkataannya.
Pemuda itu mengangguk. “Namaku Tian Ju, murid kepala Taring Naga yang diutus guru untuk mewakilinya ke acara ini.”
“Ah!” Long Wei cepat-cepat menjura. “Taring Naga pernah melepas budi besar kepadaku melalui saudara Souw Ki. Kuucapkan terima kasih.”
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.
Dua makhluk kecil itu sibuk memandangi Aksa bak Aksa idola mereka yang ada di kartun Aikatsu.
Setelah keheningan itu Kak Dio angkat bicara dan bercerita panjang lebar tentang Aksa dan dirinya yang menjadi sahabat sehidup semati selama bertahun-tahun. Mereka terpisahkan karena Aksa yang melanjutkan S2-nya ke luar negeri. Dia ternyata bukan pedagang sembarangan. Dia developer property yang cukup sukses di bidangnya. Setidaknya itu yang kutangkap dari pembicaraan mereka tadi pagi. Taukah kalian ternyata dulu Aksa mengambil jurusan arsitektur?
tanya ibunya setengah mengejek Hayu.
“Bu, Hayu itu Jojoba, Jomblo-jomblo bahagia, Bu, maafkan Hayu, jojoba ini, sudah mendapatkan panggilan dari big bos, mamanya Candra. Jadi Hayu tidak bisa menolak,” tutur Hayu pada ibunya.
Maka ia bangkit dari kasurnya dan berjalan melewati sang Ibu, meninggalkannya sendiri di kamar.
Arashiyama, 29 Oktober 2002.
“JIRO, awas! Kameramu.”
Secepat kilat, Jiro menurukan kameranya dan berhadapan langsung dengan seekor nihonzaru – kera Jepang – yang beberapa detik lalu nyaris merebut kameranya atau lebih parah, melukainya jika saja ia tidak dengan sigap bertindak. Jiro berdecak, memberi sinyal pada kera itu untuk pergi yang langsung diturutinya.