PETAKA REUNI
“Kalo gitu, kita harus sering jalan-jalan lagi.”
“Nanti anak kita lahir di jalan.” Aku tergelak ketika berkata demikian.
Tak lama kemudian, Arsyl menepikan mobil di sebuah hamparan yang menyerupai altar batu. Tumpukan batu terlihat di sana-sini, seperti baru saja dikumpulkan para penambang. Rerumputan dan tumbuhan perdu terlihat di sekitar. Lalu, ada papan kayu yang menunjukkan satu arah dan bertuliskan: parkir. Rupanya, kami sudah sampai.