Kebangkitan Sang Putri Terbuang
Tak butuh waktu lama, bisikan itu menyeberang ke lapak sebelah, sampai ke penjual kain yang sedang melipat tumpukan sutra berwarna-warni.
"Kasihan Putri Lin Yuexi," gumam penjual kain, nadanya getir bagai cuka yang menetes di luka. "Lahir sebagai putri sah, tapi diperlakukan seperti aib keluarga. Menikah dengan pangeran gila? Itu bukan pernikahan, tapi pembuangan."
Gosip itu merambat cepat, seperti api yang melahap jerami kering. Dari pasar ke kedai arak, dari bisikan lirih berubah menjadi tawa ejekan yang lantang.