Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Batu Akik Penakluk Wanita

Batu Akik Penakluk Wanita

teriak Pak Tejo. “Siap, Pak!” Tanpa banyak bicara, Bayu memanggul karung, mengangkat keranjang, lalu mondar-mandir mengantar barang ke tiap lapak dari penjual lainnya juga. Sampai semuanya siap jualan. Beberapa saat kemudian, Pak Tejo menyodorkan uang yang sudah digulung. “Nah, ini upahmu.” “Wah … makasih Pak!” Bayu meraihnya. Matanya berbinar lalu membuka gulungan uang yang ternyata bernilai tiga puluh ribu rupiah.
1049.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 991 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran

Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran

Seorang pelayan membawa payung kertas minyak. Puspa menyerahkannya. "Permaisuri, lebih baik Anda menggunakan payung. Anda sedang mengandung, tidak boleh masuk angin." "Sebentar saja nggak akan masuk angin." Puspa memegang payung kertas minyak sambil mengikuti Anggi di sisi kiri. Dia akhirnya tidak jadi memakai payung itu, sebaliknya malah melemparkannya pada pelayan muda di samping, lalu berkata, "Hamba pegangi Anda saja, Permaisuri."
9.7965.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32.8K kali sebagai payung kepala
Tampilkan Ulasan (93)
Baca
+Pustaka
Anisa Syaiful
Eps 200 kebawah tuh seru banget, penyelesaian masalah cepat dan ga berbelit2. Tapi makin kesini cerita makin hancur, perihal anak aja lama banget selesainya, blm lagi masalah selir2 ini .. pliss deh fokus ke anggi dan luis aja ... makin lama cerita makin membosankan, udh semingguan aku skip baca
irmayyunita20
Kalau aku di posisi Luis bakal cemburu banget sih. Bayangin aja ketika suami pergi kerja, istri malah berduaan menghabiskan waktu sama pria lain. padahal aku cewek lo, entah dianggap kakak/adik namanya beda darah ya tetep orang lain. Meskipun kasian banget sama Aska, kenapa Anggi ga mikirin Luis sih
Baca Semua Ulasan
PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN

PERNIKAHAN DADAKAN DENGAN MANTAN

Ketika sampai di hadapan Karuna, ia mengulurkan sesuatu. Sebuah payung. Karuna menatap benda itu beberapa detik sebelum akhirnya mendongak. “Pak…?” “Pakai saja.” Karuna spontan menggeleng kecil, mengibaskan tangannya. “Nggak perlu, Pak…” “Tapi perlu payung buat sampai ke halte, ‘kan?” sahut Pratama, “Pakai,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, namun cukup jelas untuk tidak dibantah lagi.
9.85.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 212 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Pembalasan sang Istri Tertindas

Pembalasan sang Istri Tertindas

"Hujan terlalu deras, pakai saja dulu." "Baiklah," jawab Arya. Begitu payung terangkat ke atas kepala, keduanya langsung merinding saat melihat ternyata gambar di dalam payung itu berubah tergantung dari sudut pandangnya. Saat payung dinaikkan, gambar Zion yang tadinya normal langsung menjadi gambar Zion sedang mengayunkan sabuk kulit dengan liar.
9.4935.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18.7K kali sebagai payung kepala
Tampilkan Ulasan (192)
Baca
+Pustaka
namanya
serius ini ga ada lanjutannya? mba penerjemah.. tolong lanjutin lagi ya updatenya kalau ada.. sapa tau penulis aslinya trus hidup lagi gitu... kalau menurutku novel ini masih ter the best deh di GN ini. jadi sayang kalau berhenti ditengah jalan gini... tinggal dikit kayanya... plis lanjut lagi yuk..
Jesi Sanctuary
Kak Danira, ini bener-bener plotwist, lovee banget! Izin promosi yaa kak hihi buku-ku; "Pernikahan Dadakan dengan Mantan" Yuk ketemu dengan Rajendra dan Karuna—dua mantan dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai! Thank you so much, Kak! Sukses selaluu<3
Baca Semua Ulasan
Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Aldo. Dengan payung kecil warna biru yang tak berguna menghadapi hujan sebesar ini. Payung itu terbolak-balik oleh angin, hampir rusak. Ia masuk ke dalam gazebo dengan napas tersengal, mengibaskan air dari rambutnya seperti anjing basah. Tetesan air beterbangan ke segala arah. "Payungnya kayak mainan anak," komentar Raisa tanpa bisa menahan senyum. Senyum pertama hari ini.
19.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 608 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Payung Merah

Payung Merah

Meskipun, dia sangat berterima kasih. Saat membuka payung merah itu, Tika terpana. Payung itu didesain dengan unik, kerangkanya kuat, lapisan payungnya juga tebal. Bahkan pada tangkai payung dilengkapi beberapa fitur keren yang tidak ada pada payung biasa. Tika senang sekali. Dia terlindungi meski berjalan dengan cepat di bawah hujan. Sementara Tika sedang berjalan dengan cepat menuju kantornya, sepasang mata mengamati dirinya lekat. Namun, tentu saja Tika tidak menyadarinya sama sekali.
104.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 125 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Claudia's Gift Shop

Claudia's Gift Shop

Suatu hari yang cerah, di daerah pertokoan Distrik Utara, seorang gadis kecil memandangi sebuah payung berwarna putih dengan ulir berwarna emas yang mengitari sisinya. Dia sangat tertarik dengan payung itu dan berniat membelinya.Namun, harga payung tersebut teramat mahal baginya dan uang yang dimilikinya sekarang tidak cukup untuk membelinya.
104.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 150 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Lima Samurai Batavia

Lima Samurai Batavia

Rambutnya yang panjang disanggul kecil dan ditusuk dengan riasan rambut yang menyerupai sumpit, tetapi terbuat dari emas. Shitaro menganggukan kepala. Setelah itu, Yukiko memberikan sebuah payung kertas untuk lelaki tua itu. Payung yang dibawanya hanya tiga, sehingga dua payung lagi dia lempar begitu saja ke dalam tronton. Salah satu payung kertas itu menggelinding di kaki Hide.
107.3K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 182 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Pangeran Langit Mencari Cinta

Pangeran Langit Mencari Cinta

tanyanya seraya menggoyang-goyangkan benda yang sedang dibawanya. Oh! Jadi itu payung. Jika menggunakan benda itu, kami bisa melanjutkan perjalanan tanpa takut diguyur hujan. "Berikan payung itu padaku," ujarku. "Apa maksudmu?" "Kami harus segera kembali ke Kerajaan Langit. Kami perlu payung itu agar bisa terlindung dari hujan dan bisa melanjutkan perjalanan." "Hah! Kamu memang suka seenaknya saja. Jika kamu ingin aku meminjamkan payung ini, seharusnya kamu berbicara lebih sopan padaku."
108.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 167 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Balada Ming Yuan

Balada Ming Yuan

Dengan nada dingin ia berkata, "Tetap di sebelahku, hujan akan mengguyur." Ming Yuan menengadah. Langit terlihat hitam legam. Ia tidak tahu akan turun hujan atau tidak. "Shi Fu, kau sendiri dari mana? Kenapa punya payung itu?" Tanya Ming Yuan saat mereka berjalan. "Aku punya uang, aku membelinya," balas Zhuge Yue datar. Ming Yuan berdecak lidah. "Ck, selama ini aku tidak pernah dikasih uang. Shi Fu tega sekali."
1013.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 380 kali sebagai payung kepala
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status