Ifat
“Tidak! Tapi.., ckk, yah, cuma gila saja sedikit. Itu sebabnya Abang lama menikah. Umur sudah tiga puluh lima baru Abang berhasil mempunyai istri. Pas, tepat di usaha Abang yang ke-dua puluh tujuh kali.”
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Sembari membayangkan dua puluh enam kali penampikan itu, aku mencabut sebatang rokok dan menyalakannya.
Pelan-pelan aku mengisap racun tar dan nikotin. Rasanya sesak, tapi masih lebih baik, daripada sesak karena cinta!
Di pojok, lagu milik grup band Dewa yang dimainkan Ciko tadi sudah hampir habis. Sekarang, ia sedang memainkan bagian akhir dari lagu yang belakangan kuketahui berjudul Pupus itu.
Bab Populer