Bara di Hati Mikha
Andai aku bisa, pasti aku akan memberikan ia semangat agar tegar menghadapi sang Mama yang seperti ibu tiri ini.
"Bar, tunggu sebentar, ya. Tante ambilkan bolpoin sama kertasnya."
"Oh, iya Tante."
Kini saat Tante Retno pergi, aku justru memikirkan apa yang akan aku katakan kepada Mikha melalui surat itu. Sejujurnya aku belum pernah menulis surat untuk wanita. Karena di jaman aku mulai mengenal cinta monyet sampai mengenal cinta kingkong saat ini, surat menyurat sudah tidak lazim dilakukan. Minimal dulu sejak aku SD sampai SMP ada istilah SMS, lalu berkembang kepada BBM dan lanjut hingga W******p dan teman-temannya. Lalu kini aku harus menulis apa? Apakah tanganku tidak kaku ketika sudah lama