Dok, Please Cukup!
Tawa itu berhenti di tengah jalan.
Halaman kelima terputus di tengah kalimat, kata terakhir yang tercetak menggantung tanpa titik, tanpa penutup apa pun, seolah tangan yang menulisnya berhenti mendadak tanpa sempat menyelesaikan pikiran. Sisa halaman itu sudah tidak ada, dan bekas potongannya lurus sempurna, terlalu rapi untuk sesuatu yang robek karena usia atau kecelakaan kecil sehari-hari.