Pura-Pura Buta
Senyum yang terpaksa kusunggingkan, karena mendengarnya berucap tanpa rasa malu, setelah menghardikku kasar di tempat umum.
"Kalau ujung-ujungnya ingin minta uang, kenapa harus menghinaku di tempat umum begini." Mataku mendelik tajam padanya. Sita makin menunduk mendengar ucapanku.
"Rumah yang kalian jual itu nilainya fantastik. Sangat besar. Kurang lebih hampir menyerupai harga rumahku. Bagaimana mungkin bisa habis hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan. Itu diluar logika, Sit. Jadi maaf kalau aku tidak bisa meminjamkan kalian uang," balasku dengan menepis tangannya dan memaksanya menjauh dari mobilku.