Pembalasan Sang Dokter Jenius
Ia memberanikan diri melangkah keluar, berjalan tanpa suara di lantai papan yang dingin.
Ia memeriksa pintu depan. Masih terkunci rapat, palang kayunya terpasang dengan kokoh.
Ia memeriksa pintu belakang di dapur. Juga terkunci.
Tidak ada siapapun. Tidak ada apapun.
Di tengah keheningan warung yang mencekam, suara tawa mengerikan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, seolah berbisik tepat di telinga Joko.