KEMBALINYA SANG RATU
Dalam pikirannya, ia menyusun sebuah puisi yang menghubungkan sinar matahari, teknologi, dan kearifan alam:
"Di balik sinar yang membelah pagi, tersembunyi doa dari setiap cahaya;
Panel surya mengubah hiruk pikuk matahari menjadi aliran energi yang menari,
Seperti air yang disalurkan dengan hati, menghantar benih-benih harapan ke ladang yang kering."
Kata-kata itu muncul seolah-olah takdir, mencerminkan betapa canggihnya peradaban yang dapat tumbuh di tengah keterbatasan. Lintang tersenyum, menyadari bahwa meskipun dunia modern seringkali tampak keras dan tanpa hati, di sini, teknologi dan budaya dapat bersatu membentuk simfoni yang menyentuh jiwa.