Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

Sesuatu yang terlalu halus untuk diucapkan, tapi cukup kuat untuk dirasakan. Cahaya itu—cahaya yang kemarin hangat—sekarang sedikit terlalu putih. Terlalu bersih. Ia memantulkan segalanya tanpa memberi ruang bagi bayangan. Dunia tampak sempurna, tapi diam-diam kehilangan kedalaman. Aaron bangkit, menatap lembah yang semalam penuh kehidupan. Pohon-pohon berdiri tegak seperti patung. Bunga-bunga bercahaya tak lagi bergoyang meski angin lewat.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Pertemuan Kedua : Dia yang Kembali

Pertemuan Kedua : Dia yang Kembali

Tak ada salahnya mengorbankan hal kecil untuk sesuatu yang besar bersinar. ____________________________________ Cahaya bulan berhasil dipelintir oleh sinar mentari. Seolah menggambarkan kekalahan, burung-burung menangis mengawali hari. "Jam berapa ini?" Ayumi bergumam dalam tidurnya, bibir kecil itu menguap beberapa kali. Semalam, ia terjaga cukup lama. Pelan-pelan jemari kanannya mengusap ujung mata.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Dendam Sang Pewaris Leluhur

Dendam Sang Pewaris Leluhur

“Bahwa cahaya yang kalian sembah... bukan penyelamat, tapi penjaga yang takut kehilangan kendali.” Ratna memucat. “Kamu salah. Cahaya itu yang ngelindungin dunia.” “Cahaya itu juga yang ngebunuh ribuan bayangan cuma karena mereka beda,” balas Rendra tajam. “Dan sekarang, aku cuma mau nyelamatin keseimbangan. Kalau dunia ini harus gelap untuk tenang, biarlah.” Arga maju selangkah, pedangnya bergetar. “Kalau kamu nyentuh Ratna, aku.”
101.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Kepiawaian Vajra dalam memetik instrumen berdawai itu memang bukan isapan jempol semata. Mendengar iringan yang begitu indah, kepercayaan diri Candrani melonjak. Ia menarik napas dalam, lalu mulai membacakan bait pertama dari puisinya yang berjudul "Cahaya Candra di Balik Mega." Puisi itu berkisah tentang Dewi Bulan yang sinarnya dihalangi oleh kabut tebal kiriman Dewi Kegelapan.
1014.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 376 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Cahaya Lilin

Cahaya Lilin

Tidak sengaja badannya bertabrakan dengan seorang wanita. "Astaghfirullah," ucap Yazid berbarengan dengan wanita itu. Kali ini Yazid menatap wajahnya, senyum yang mengembang di wajah wanita itu sungguh sangat manis seolah menghipnotisnya untuk membalas senyuman itu, binar matanya seolah bersinar teduh seperti sinar purnama di malam yang gulita.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Ia meraih Dinda, memeluknya erat. “Puisi kamu indah banget sayang.” Dinda tersenyum “Itu buat Bunda dan Ayah.” “Bunda yakin Ayah denger,” jawab Dina lembut, “karena cahaya nggak butuh suara untuk sampai ke langit.” Sore itu, Dina menyalakan pelita di ruang tamu. Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir,
688 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 23 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Shadow Under The Light

Shadow Under The Light

Ia membelai wajahku perlahan. "Kau ... adalah cahaya dalam hidupku. Satu-satunya terang yang membuatku memandang dunia secara berbeda. Wanita yang mencuri hatiku, yang lera mati bagiku, bahkan mau membebaskanku dari jerat yang tak mungkin bisa dilepaskan." Suara Axel bergetar.
108.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 341 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Tafsir Waktu

Tafsir Waktu

Mencoba menjadi lilin ditengah kegelapan, tanpa korek api. Aku hanyalah lelaki yang terlalu naif untuk mencuri cahaya dari kunang-kunang. Mungkin dipikiranku duduk di lampu sorot sebuah taman kota lebih baik. Dipikiran tak ada yang salah dari menunggu hujan seribu cahaya dimalam yang buta.
1011.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 288 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
My Light

My Light

Keberuntungan baginya, bisa menemukan—sekaligus menjadikannya tempat berlatih kecepatan. "Hah, amat melelahkan!" Masih berjalan mengitari lapangan, tatapannya tertuju sebentar pada langit. Ternyata, mulai gelap. Tebukti, sekumpulan anak kecil tadi sudah pergi—pulang. Arsen segera memasukkan ponsel dan timer miliknya ke dalam tas, kemudian menyampirkan.
106.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Beyond the Light

Beyond the Light

“Awalnya, aku berpikir dari titik yang paling sederhana. Aku bertanya pada diriku, apa yang aku bisa? Kemudian, aku memikirkan mengenai elemenku. Aku juga memikirkan apa yang bisa membuat sebuah benda yang tidak terlihat menjadi terlihat dengan adanya elemenku.” “Aku memiliki elemen cahaya. Jika aku mengarahkan cahaya ke setiap arah, maka cahaya itu bisa dipantulkan. Dari sini, kita bisa mengetahui di mana keberadaan mereka sebelum mereka berubah wujud. Namun, kaca adalah benda yang tembus cahaya. Jika mereka adalah cermin, mungkin usaha ini akan berhasil.”
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 97 kali sebagai poems about light
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status