Mayat di Atas Ranjang
gerutu Ki Gendeng.
“Ya, memang, sih. Aku memang tadinya sudah lupa, kupikir, ya sudahlah, biar saja aku tinggal di sini, enggak perlu repot-repot kembali. Apalagi dikelilingi oleh bocah-bocah berwajah malaikat seperti mereka, sungguh sangat membahagiakan. Tetapi, berkat pohon ini, aku malah jadi tersadar.”
“Sekarang sudah terlambat. Pohon ini tua, tetapi kuat. Selagi kita bercakap-cakap begini, dia sedang mengumpulkan tenaga lebih besar lagi untuk menyeret kita berdua masuk ke dalam tanah.”
Hot Chapters