MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN
Jari-jarinya bergerak mantap, sesekali berhenti, menatap kosong pada garis-garis yang ia buat seakan sedang berbicara dengan coretannya sendiri.
Liam menilai tiap lengkung, tiap detail ukiran yang digambarnya, seolah-olah bukan sekadar kursi atau meja, melainkan potongan jiwa yang harus hidup utuk menjadi identitas karyanya. Liam membandingkan motif tradisional geometri Islam dengan garis modern yang minimalis. Ia terus menimbang bagaimana membuatnya tetap sakral, eksklusif, tetapi juga nyaman dipandang oleh mata dunia yang global.