Pembalasan Sang Dokter Jenius
’
Sebuah pikiran konyol lainnya melintas di benaknya, sebuah asosiasi dari cerita-cerita rakyat yang pernah ia dengar di desanya.
“Memangnya aku tuyul apa,” gumam Joko pelan pada dirinya sendiri, namun cukup keras untuk terdengar samar di keheningan itu. “Suka main cermin?”
Gumaman Joko yang menyamakan cermin pusaka itu dengan mainan tuyul adalah penghinaan terakhir yang bisa ditolerir oleh Mbah Karyo. Wajahnya yang keriput mengeras, matanya yang merah menyala kini memancarkan kebencian murni yang begitu pekat hingga udara di sekitar mereka terasa membeku. Senyum sinisnya lenyap, digantikan oleh ekspresi fokus yang mematikan.