Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Di atas kertas, sebuah puisi yang ditulis dengan aksara rumput liar terpampang jelas. Ketika Mardi, Haidar, dan yang lainnya kembali sadar dan membaca isi puisinya, wajah mereka perlahan memerah, dipenuhi rasa malu dan marah. [ Memuji Jarum ] [ Seratus kali tempa, jadilah sebatang jarum, ] [ Terbalik terguling, menari di atas kain. ] [ Mata seolah-olah tumbuh di bagian belakang, ]
10272.5K viewsCompletedAdded to Library 10.6K Times as puisi petani
Read
+Library
KINASIH

KINASIH

Asih hanya mengangguk, turut tersenyum saat neneknya berkelakar. Semilir angin sore menggantikan teriknya mentari siang hari. Terlihat beberapa petani mulai meninggalkan peraduan di tanah olahannya dan kembali ke rumah, begitu juga dengan Paijo. Wajah lelahnya kini terlihat penuh senyuman, saat langkah demi langkah membawanya semakin dekat dengan istri dan sang cucu di teras. Sembari tertawa lebar, pria tua itu mengacungkan satu ikat jagung dan singkong di tangannya ke arah dua wanita di teras.
1.3K viewsCompletedAdded to Library 37 Times as puisi petani
Read
+Library
Pendekar Naga Siluman

Pendekar Naga Siluman

Ada kalau sepuluh bahu dan satu bahu bisa terdiri dari lima sampai delapan kedok (kotak-kotak sawah yang di batasi oleh pematang). Di kabupaten kecil ini tanahnya sangat tandus dan kering! Tak ada tanaman yang bisa tumbuh pada waktu puncak musim kemarau, sehingga petani hanya mengandalkan sawah tadah hujan belaka. Tanaman padi hanya bisa di lakukan sekali saja dalam setahun sedangkan dalam pancaroba petani menanam kacang-kacangan serta jagung. Satya segera berlari keluar kelas, karena tampak di ujung koridor sekolah, Bambang dan Hartono sudah berdiri di sana dan menggapai ke arahnya!
102.6K viewsOngoingAdded to Library 92 Times as puisi petani
Read
+Library
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Kabut tipis mengambang di permukaan air, memberi suasana tenang dan magis. Setibanya di Kampung Mekar, suasana sudah ramai. Ladang-ladang membentang seperti permadani emas—gandum menguning dan padi yang mulai membungkuk karena berat bulirnya. Para petani sibuk memanen, suara tawa dan teriakan memecah keheningan pagi. “Tuan Raka datang!” teriak seorang petani tua bernama Jeno, sambil melambai-lambaikan topi anyamannya.
1012.3K viewsCompletedAdded to Library 307 Times as puisi petani
Read
+Library
Alam Murni Sang Kultivator

Alam Murni Sang Kultivator

Tersenyum Zedt mendengar rasa penyesalan Zeion yang begitu tulus. “Jangan kau pikirkan, apa yang hancur di desa ini dapat diperbaiki, kami bisa berkebut lagi dan akan memanen hasilnya sekali lagi! Yang terpenting para hewan yang berkemungkinan akan menyerang desa sudah binasa! Kami sekarang bisa merasa lega dengan semua ini...” Untuk hal yang sudah dijelaskan dengan sedemikian rupa, hati Zeion masih tidak terlalu senang.
2.1K viewsOngoingAdded to Library 79 Times as puisi petani
Read
+Library
Sang Pewaris yang Terbuang

Sang Pewaris yang Terbuang

Bab 012 : Tempat asing "Kai, apa kau yakin ini adalah tempat yang aman?" Tanya Terry. Ia mengedarkan matanya melihat sekeliling. Halaman bangunan itu nampak berantakan, dengan sampah dan dedaunan yang bersebaran. Sulur yang tumbuh subur di dinding, menjuntai di tiap sisi tembok. Cat tembok yang kusam dan mengelupas, serta rumput liar yang tumbuh tinggi, sekitar selutut.
1.2K viewsOngoingAdded to Library 37 Times as puisi petani
Read
+Library
Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit

Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit

"Oh, kalau itu kerjaan Amrin. Awalnya buat kandang ayam dengan lima ekor, sekarang jadi lima belas ekor. Makanya, Juragan... jalan-jalan ke kebun belakang. Padahal ada buah pepaya, cabai, dan sayuran yang ditanam hidroponik lho sama Bi Inah. Kata mereka buat hiburan, dan sayang tanah di kebun belakang terlalu sepi kalau dianggurin." Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar laporan di luar dugaannya itu. "Dasar kalian ini. Ya sudah, lanjut kerjamu, aku mau lihat istriku dulu ke belakang." Aku melangkah ke kebun belakang, dan pemandangan di sana seketika membuat sudut bibirku terangkat. Di antara rimbunnya tanaman cabai yang berbuah lebat, Tiara tampak begitu mencolok dengan kaus olahraga dan
101.6K viewsOngoingAdded to Library 51 Times as puisi petani
Read
+Library
Terlahir Kembali Menjadi Karakter Pendukung dalam Novel

Terlahir Kembali Menjadi Karakter Pendukung dalam Novel

Dia mengunci pintu pagar dan membawa mereka tidur. Meski sudah di tempat tidur, mereka belum langsung tidur. Jiang Xi menggunakan waktu ini untuk mengajarkan mereka menghafal puisi klasik. Puisi yang mudah diingat tentu saja 'Belas Kasihan kepada Petani': Mencangkul di ladang pada tengah hari, keringat menetes ke tanah. Siapa tahu nasi di piring, setiap butirnya penuh dengan kerja keras.
5.7K viewsCompletedAdded to Library 153 Times as puisi petani
Read
+Library
Kubalas Hinaanmu, Mas!

Kubalas Hinaanmu, Mas!

Beberapa saung tersebar sehingga menimbulkan kesan petani sedang makan setelah bekerja di sawah seharian. Sejuk dan nyaman membuat betah pengunjung. Sepanjang mata memandang, hijau padi menyegarkan penglihatan. Yuda bahkan mulai merasakan matanya sedikit berat saat angin sepoi-sepoi bertiup. Perut kenyang ditambah pula musik seruling Sunda diputar pelan membuat lelaki itu hampir saja ketiduran.
998.6K viewsCompletedAdded to Library 2.1K Times as puisi petani
Read
+Library
DINIKAHI KONGLOMERAT

DINIKAHI KONGLOMERAT

Apakah ini bawaan bayi? Kakiku yang hanya memakai sandal capit melangkah perlahan. Menyusuri jalanan kecil yang menghubungkanku dengan area pesawahan. Akhirnya aku tiba. Meski terik, tapi semilir angin bercampur wangi lumpur sawah dan padi yang mulai menguning membuat hati ini tetap terasa damai. Dalam beberapa petak terlihat para petani yang tengah sibuk memotong padi. Sudah musim panen rupanya.
9.7330.3K viewsCompletedAdded to Library 12.6K Times as puisi petani
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status