Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ambisi Sang Penguasa

Ambisi Sang Penguasa

Ancaman itu kalau tidak segera ditumpas bisa menjadi virus yang menyebar. Luis menatap uang-uang yang ia masukkan ke dalam tas dengan iba. Harusnya dia bisa menggunakan uang ini untuk bersenang-senang, tapi malah diberikan kepada petugas licik dan tamak. Penjahat ada di mana-mana, yang paling mengerikan adalah yang berseragam resmi, menggunakan negara sebagai senjata. Para penjahat paling buruk yang pernah ada. Setelah tas terisi, Luis berdiri dengan lesu. Dengan berat hati, tidak rela memindahtangankan uangnya.
104.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Kontrak Cinta si Gadis Penari

Kontrak Cinta si Gadis Penari

“Kamu hanya bercanda, anak muda.” “Senjata itu tidak ada isinya. Kamu sedang menggertakku,” sambungnya tetap angkuh, meskipun Kivanc sudah mendapati wajah lelaki tua itu memucat. Ia menyeringai kecil dengan anggukan pelan. “Iya, ini tidak ada isinya dan hanya mainan anak kecil.” DOR! DOR! DOR! DOR! Kaki sang politikus dan anak buahnya terasa lemas. Tungkai mereka tidak dapat menahan beban tubuh saat satu per satu dari mereka membuktikan isi dari benda tersebut.
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan

Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan

Tatapan Ayesha berubah penuh penolakan sesaat mendengar jawaban tersebut, "Tapi sebenarnya saya bukan orang yang tertarik dengan politik atau semacamnya," Alexei mencondongkan sedikit tubuhnya, matanya bersinar dengan intensitas yang tidak mudah dijelaskan, "Anda mungkin tidak peduli, tapi lihatlah balik kepada diri Anda, penciptaan makhluk yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mendominasi, sepertinya Anda tahu bahwa hewan-hewan itu lebih dari sekadar eksperimen, mereka lebih pantas disebut senjata,"
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Selir Yang Terlupakan

Selir Yang Terlupakan

Lady Xiwu menatap buku itu seolah berharap bisa membaca isi tulisannya dari kejauhan. Kaisar membaca dalam diam cukup lama, alisnya sedikit berkerut. Ia membaca pelan, seolah setiap kata memiliki bobot dan makna tersendiri. Puisi itu bukanlah pujian manis tentang kemewahan istana atau keindahan musim semi seperti yang biasa didengarnya; puisi itu berbicara tentang dinginnya musim dingin, ketabahan yang tumbuh di tengah kesunyian, dan jejak kaki yang tak hilang meski tertutup salju tebal.
479 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Istri Naskah Mas Politikus

Istri Naskah Mas Politikus

"Lo tuh ya! Kerja pake bantuan orang dalem aja, bangga!" "Saya masuk ke dunia politik karena usaha sendiri. Yang pake bantuan orang dalem itu bukannya kamu?" Olla melotot, "Elo!" "Kamu pikir saya gak tahu soal itu? Sana mandi, pengangguran." "Mulut lo tuh ya, kayak tante-tante yang suka nagih baju seragam kalo ada acara." Malas berdebat dengan Aidan sepagi ini, Olla mengalah. Dia masuk ke kamar mandi dan memilih tidur di bathub.
670 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
My Beloved Partner

My Beloved Partner

Puisi itu berbunyi: Di antara sejarah dan darah pahlawan, Ada degup yang tak bisa kuabaikan. Tak ada merah putih di dadaku selain wajahmu yang selalu tenang. Untukmu, guru berjas abu-abu… Pak Taka mengernyit. “Ini puisi... romantis?” Laras maju ke depan dengan cepat, “Itu... karya fiksi, Pak! Kami mau menunjukkan bahwa nasionalisme bisa disisipkan dalam bentuk rasa cinta!”
103.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
 The Third King

The Third King

“Apa yang harus saya ingat Yang Mulia?” Arsyanendra kemudian mendekatkan wajahnya ke samping wajah Ravania dan kemudian berbisik, “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan menjadi dihormati(1). Bisakah kamu mengingat pesan penting ini, Nona Ravania?” (1)kutipan kalimat dari George Orwell Ravania menganggukkan kepalanya. “Akan saya ingat itu, Yang Mulia.”
84.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Love, Lies, and The Price of Desire

Love, Lies, and The Price of Desire

Pandangannya beralih pada Citra. “Mungkin sebagian besar ceritanya sudah kau dengar sendiri dari polisi, bahwa Yan menjalankan sebuah prostitusi papan atas. Tapi… dibalik judul berita itu, ada sesuatu yang lebih besar. Politik, kekuasaan, pengaruh. Para politisi, pengusaha, pejabat asing... mereka adalah aset informasi berharga.” Kalimat terakhir itu diucapkan hampir seperti bisikan.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Dance in the Rain

Dance in the Rain

" Aku menambahkan begitu Aksara sudah selesai dengan bagiannya. Seorang anggota polisi lain yang menerima mawar putih dariku, tak kuasa menahan air mata. Pria itu menangis sambil mendekap mawar putih yang kuberikan. "Pak, suara ini kami bawa atas amanah dari mereka Mengharapkan tulus bagi perubahan negeri Bukan untuk mengacaukan atau justru menghancurkan Pak, coba dengar suara kami!" Setelah Aksara menyelesaikan bagiannya, aku melihat bagaimana gerbang berukuran besar dan tinggi itu bergerak membuka. Aku tahu, puisi yang kami bacakan telah didengar dan menggerakkan hati para perwakilan rakyat yang mendiami gedung ini.
103.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Gadis Terakhir

Gadis Terakhir

Politikus itu ternyata memiliki banyak musuh yang menjadi keuntungan sendiri bagi Aarav karena sekali saja bukti skandal itu di-publish maka banyak sekali yang memanfaatkan demi menggulingkan sang Politikus. Sambil memangku Aghastya yang sedang terlelap, mata Aarav terpaku pada layar kaca mengikuti perkembangan kehancuran Abigail dan sang Politikus. “Kayanya rakyat Australia diberkahi Tuhan, karena sebelum sempat jadi Perdana Mentri—si Politikus udah dilengserkan sama Tuhan … Tuhan tahu lo enggak akan amanah, sok kegantengan banget sih lo … hobby olah raga, udah tua badan masih oke … udah tua mah buncit tuh perut … jangan sok-sokan tebar pesona … emang udah keliatan sih lo keganjenan,” kata
1042.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 924 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status