Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Corona Love

Corona Love

pintaku. “Sebenarnya nggak jauh dari apa yang sudah kita baca di media sih. Intinya sih ya gitu aja, perpolitikan, kayak di pemerintahan. Orang-orang yang berjuang untuk mendapatkan posisi lebih tinggi di kantor. Dan nggak ada yang salah dengan itu. Tapi memang ada juga yang suka main kotor.” Jawab Lyna. “Nah, main kotor itu yang gimana contohnya?” galiku.
3.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 123 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Kontrak Cinta si Gadis Penari

Kontrak Cinta si Gadis Penari

“Kamu hanya bercanda, anak muda.” “Senjata itu tidak ada isinya. Kamu sedang menggertakku,” sambungnya tetap angkuh, meskipun Kivanc sudah mendapati wajah lelaki tua itu memucat. Ia menyeringai kecil dengan anggukan pelan. “Iya, ini tidak ada isinya dan hanya mainan anak kecil.” DOR! DOR! DOR! DOR! Kaki sang politikus dan anak buahnya terasa lemas. Tungkai mereka tidak dapat menahan beban tubuh saat satu per satu dari mereka membuktikan isi dari benda tersebut.
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 57 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Selir Yang Terlupakan

Selir Yang Terlupakan

Lady Xiwu menatap buku itu seolah berharap bisa membaca isi tulisannya dari kejauhan. Kaisar membaca dalam diam cukup lama, alisnya sedikit berkerut. Ia membaca pelan, seolah setiap kata memiliki bobot dan makna tersendiri. Puisi itu bukanlah pujian manis tentang kemewahan istana atau keindahan musim semi seperti yang biasa didengarnya; puisi itu berbicara tentang dinginnya musim dingin, ketabahan yang tumbuh di tengah kesunyian, dan jejak kaki yang tak hilang meski tertutup salju tebal.
101.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

Haidar chat kasih puisi: Wanitaku, Sayang! Rahim yang Kugali Kini Telah Tertali Aduan Nafsu Menganga Doa dan Cinta pun Berbunga Tubuh yang Kuraba Kini Hangatnya Mengaba Tersingkir dari Angin Membunuh Gemuruh Dingin Qobiltu yang Menjadi Janji Kini Telah Kuhempas dari Ruji Menjemput Pagi
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 187 kali sebagai puisi politik
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Baca Semua Ulasan
Marvin Rock Si Suami Terhebat

Marvin Rock Si Suami Terhebat

Dulu sewaktu kuliah, kalau bosan belajar sains, dia akan menyibukkan diri dengan membaca puisi. Namun, malam ini Marvin kecewa lantaran puisi-puisi yang ditampilkan adalah karya-karya terbaru. Marvin tahu bahwa dua puisi yang barusan dibacakan adalah karya kontemporer yang bahkan anak SMP saja tahu itu. Tidak puas, Marvin berharap di puisi yang ketiga bakal ada karya lama yang diangkat.
1015.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 498 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Istri Naskah Mas Politikus

Istri Naskah Mas Politikus

"Lo tuh ya! Kerja pake bantuan orang dalem aja, bangga!" "Saya masuk ke dunia politik karena usaha sendiri. Yang pake bantuan orang dalem itu bukannya kamu?" Olla melotot, "Elo!" "Kamu pikir saya gak tahu soal itu? Sana mandi, pengangguran." "Mulut lo tuh ya, kayak tante-tante yang suka nagih baju seragam kalo ada acara." Malas berdebat dengan Aidan sepagi ini, Olla mengalah. Dia masuk ke kamar mandi dan memilih tidur di bathub.
784 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 29 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
 The Third King

The Third King

“Apa yang harus saya ingat Yang Mulia?” Arsyanendra kemudian mendekatkan wajahnya ke samping wajah Ravania dan kemudian berbisik, “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan menjadi dihormati(1). Bisakah kamu mengingat pesan penting ini, Nona Ravania?” (1)kutipan kalimat dari George Orwell Ravania menganggukkan kepalanya. “Akan saya ingat itu, Yang Mulia.”
85.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 151 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Love, Lies, and The Price of Desire

Love, Lies, and The Price of Desire

Pandangannya beralih pada Citra. “Mungkin sebagian besar ceritanya sudah kau dengar sendiri dari polisi, bahwa Yan menjalankan sebuah prostitusi papan atas. Tapi… dibalik judul berita itu, ada sesuatu yang lebih besar. Politik, kekuasaan, pengaruh. Para politisi, pengusaha, pejabat asing... mereka adalah aset informasi berharga.” Kalimat terakhir itu diucapkan hampir seperti bisikan.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 42 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Dance in the Rain

Dance in the Rain

" Aku menambahkan begitu Aksara sudah selesai dengan bagiannya. Seorang anggota polisi lain yang menerima mawar putih dariku, tak kuasa menahan air mata. Pria itu menangis sambil mendekap mawar putih yang kuberikan. "Pak, suara ini kami bawa atas amanah dari mereka Mengharapkan tulus bagi perubahan negeri Bukan untuk mengacaukan atau justru menghancurkan Pak, coba dengar suara kami!" Setelah Aksara menyelesaikan bagiannya, aku melihat bagaimana gerbang berukuran besar dan tinggi itu bergerak membuka. Aku tahu, puisi yang kami bacakan telah didengar dan menggerakkan hati para perwakilan rakyat yang mendiami gedung ini.
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 123 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Gadis Terakhir

Gadis Terakhir

Politikus itu ternyata memiliki banyak musuh yang menjadi keuntungan sendiri bagi Aarav karena sekali saja bukti skandal itu di-publish maka banyak sekali yang memanfaatkan demi menggulingkan sang Politikus. Sambil memangku Aghastya yang sedang terlelap, mata Aarav terpaku pada layar kaca mengikuti perkembangan kehancuran Abigail dan sang Politikus. “Kayanya rakyat Australia diberkahi Tuhan, karena sebelum sempat jadi Perdana Mentri—si Politikus udah dilengserkan sama Tuhan … Tuhan tahu lo enggak akan amanah, sok kegantengan banget sih lo … hobby olah raga, udah tua badan masih oke … udah tua mah buncit tuh perut … jangan sok-sokan tebar pesona … emang udah keliatan sih lo keganjenan,” kata
1042.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 935 kali sebagai puisi politik
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status