Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Ia mencoret baris puisi yang baru ditulisnya dengan kasar, meremas kertas itu hingga hancur, lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Sial," umpatnya lirih. Wajahnya kusut masai, matanya cekung karena kurang tidur.
Bayangan Murong Shi terus menghantuinya. Sudah beberapa hari wanita itu tidak menampakkan diri di sekolah, dan kerinduan itu perlahan berubah menjadi racun yang melumpuhkan daya pikirnya. Setiap kali ia mencoba menulis, hanya nama dan garis wajah Murong Shi yang muncul di benaknya.