Mencintai dalam Diam
Setiap kata terasa seperti pisau tumpul yang mengiris di hati Sandi, membuatnya merasakan sakit hingga napasnya terasa berat.
Matanya dipenuhi kesedihan yang tak berujung, suaranya mengandung rasa tidak rela yang samar-samar.
"Lalu aku? Apa kamu juga nggak mau bertemu lagi sama aku?"
"Mana mungkin?"
Kalimat pertama seperti suntikan pereda nyeri, tetapi kalimat berikutnya langsung menyuntikkan racun ke dalamnya.
"Bagaimanapun, kamu sudah membesarkan aku. Saat tahun baru atau hari raya, ucapan hormat untuk orang yang dituakan nggak akan aku lupakan, Om."