Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Matahari yang Ingin Terbenam

Matahari yang Ingin Terbenam

Aku harap ini takkan menjadi lagu terakhir yang kaunyanyikan untukku. . . . Ahhhh,,, malam, kira-kira apa yang kalian bayangkan jika membayangkan kata malam. Apakah sunyi? berbintang, atau rembulan? Wah, kau kuno sekali, pasti kau jarang Hang Out apalagi keluar malam, ya kan?
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 108 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Kesendirian

Kesendirian

“See you too.” Aku chat Ribka untuk menanyakan apakah dia bisa diajak jalan, ternyata dia sibuk hari ini. Enaknya ngapain ya di kost seharian? Aku bingung mau melakukan aktifitas pagi ini. Memasak sudah, cuci pakaian sudah, dan membereskan kost juga sudah. Aku mau keluar untuk jalan-jalan sebentar saja juga malas karena sendiri meluluh. Entah kapan sampai begini, ternyata hidup sendiri enggak enak dan serba sendiri mau kemana-mana. Ya, begitulah dulu, aku pasang radio saja.Kemudian aku pasang radio yang kencang karena sudah lama aku tidak mendengar radio. Aku hanya terdiam, termenung, sambil menikmati alunan musik yang aku dengarkan, alunan musiknya membuat aku terhibur dan seketika itu, aku
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Syahadat Cinta

Syahadat Cinta

ucap Aira. “ Baiklah, semoga mimpi indah.” “Untukmu juga.” ∞ Sungai mengering, menjadi hamparan tandus Air membeku, menjadi gumpalan tak berbentuk Mentari menghilang dalam wajah kesunyian Rembulan tak bersinar, hilang tak bertuan Sepi menyergap, sunyi menyelimuti Pasrah dan doa bukanlah menyerah Semua bentuk penyerahan pada sang pencipta
109.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 270 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi

Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi

Langkahku menuruni jalur sempit di Lembah Aliran Sunyi terasa lebih berat dari sebelumnya. Udara di sini tidak hanya sunyi ia menekan. Bukan dengan kekuatan kasar, melainkan dengan ketidakhadiran irama. Seolah dunia di lembah ini menolak mengikuti siklus Qi yang kukenal. Gangguan di inti kembali berdenyut.
10639 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 25 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Kekasih Hatiku Sang Tokoh Kedua.

Kekasih Hatiku Sang Tokoh Kedua.

"Ada sentuhan yang lebih sunyi dari doa, sebuah keberanian yang hanya berani muncul satu kali saja. Namun, ia disambut bisu yang dingin dan tajam, menusuk hati, menyisakan puing-puing asa yang pilu dalam tangis tanpa suara." ***
102.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Dinda membuka buku kecilnya, lalu mulai membaca dengan suara lembut “Kalau malam datang dan lampu padam, aku nggak takut, karena ada pelita di hati Bunda. Kalau pelita itu redup, aku nyalain lagi pakai cinta Ayah. Dan kalau dunia terlalu gelap, aku janji, aku akan terus jaga cahaya kecil ini, sampai terang datang lagi.” Suara kecil itu menggetarkan ruangan. Dina menatap Dion yang masih diam, tapi senyumnya terasa lebih damai. Ia mencium tangan suaminya dan berbisik “Pelita kecil kita udah nerusin cahaya Yon, kamu boleh istirahat sebentar.” Malam turun pelan. Rumah sakit mulai sunyi. Dina duduk di samping ranjang Dion sambil menatap langit dari jendela.
688 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Sisa Cahaya di Jalan Gelap

Dalam hening yang pekat, Ratri bergumam lirih, suaranya nyaris tak terdengar kecuali bagi hati yang begitu remuk: “Ya Allah… ampunilah aku. Tolong ambillah nyawaku ini, ya Rabb, aku sudah tak tahan lagi menapaki jalan ini. Ya Allah, ampuni dosa-dosaku. Ampuni aku, Ya Allah.” Air matanya mengalir tanpa daya. Ia menutup mata, berharap doa itu menjadi penawar atau setidaknya, penghibur di saat dunia terasa amat kejam.
622 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Ada jenis sunyi yang tak bisa diredam oleh kesibukan, juga tak bisa dijelaskan hanya dengan kata “sendiri.” Sunyi semacam itu hidup di sela-sela keberhasilan, di antara tawaran kerja, tiket perjalanan, dan meja makan yang rapi untuk satu orang. Ia tidak mengetuk, tidak pula mengusik. Ia hanya duduk di sudut ruangan, menunggu diajak bicara.
1011.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 352 kali sebagai puisi sunyi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status