Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Di Sudut Memori

Di Sudut Memori

Atau, berniat untuk membalasnya. Kunyalakan sepeda motor dan melaju di jalanan ramai. Melewati berbagai macam dagangan malam. Seperti mi ayam, bakso, hingga nasi goreng yang menjajakan dagangan di pinggir jalan WR. Supratman. Setelah melewati perempatan di jalan Turi, terdapat sebuah rumah kosong tidak berpenghuni di sebelah kiri. Lima meter dari sana ada sebuah mini market kecil.
104.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Asmaraloka Sang Putri Pusaka

Asmaraloka Sang Putri Pusaka

Sebuah keputusan muncul di kepalanya. “Kita pakai arus sungai.” Arya melotot. “APA?! Kita hanyut?! Kamu mabuk?!” “Bukan hanyut,” Rakai mengoreksi. “Kita biarkan arus membawa kita turun sampai ke tikungan besar. Indragiri tidak akan mencari ke arah sungai.” Raras menatap sungai itu. Dingin. Dalam. Tidak bisa ditebak.
2.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 79 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Saudara Angkatku, Rivalku

Saudara Angkatku, Rivalku

Begitu mereka cukup dekat, wanita itu langsung menoleh, dan wajahnya berubah kagett melihat Raka muncul bersama seorang perempuan asing. “Raka!” serunya tajam. “Kamu dari mana aja, hah?! Kami nyariin kamu hampir sejam!” Raka langsung bersembunyi di belakang Elira, menggenggam gaunnya erat-erat. Elira melangkah maju dengan sopan, mencoba menengahi suasana yang mulai tegang. “Maaf. Jangan berkata kasar di depan anak. Raka tadi tersesat.”
102.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Darah dan Takdir

Darah dan Takdir

Setiap orang tahu, istirahat hanyalah ilusi sesaat sebelum badai kembali menghantam. Di sudut gua, Raka berdiri dengan punggung bersandar pada dinding batu, matanya tak pernah lepas dari mulut gua yang samar-samar diterangi oleh cahaya pagi. Tangannya tetap menggenggam gagang pedang, dan telinganya awas mendengarkan setiap suara di sekitar. Saraswati duduk di dekatnya, mengamati para pengikut mereka yang mulai bergerak, beberapa di antara mereka merapikan barang-barang, sementara yang lain memeriksa luka-luka mereka. Namun, ada sesuatu yang mengganggu Saraswati.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 26 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Pesugihan Kandang Bubrah

Pesugihan Kandang Bubrah

Braak! Sebuah rak di sudut ruangan roboh sendiri tanpa sebab. Debunya berhamburan ke udara, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti ruangan. Jatinegara menjerit ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh Ustadz Harman, tubuhnya gemetar hebat.
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
SUDAH TAK PERAWAN

SUDAH TAK PERAWAN

tepukan pada pundak dari Bu Warung membuatku tersentak. “A--apa. Bu?” Aku tergagap. “Itu rujaknya sudah jadi.” Bu Warung menunjuk ke arah depan. “Astaghfirulloh, Mas. Maaf.” Aku merasa tak enak, ternyata penjual rujak tersebut sudah mematung tak jauh dariku sambil menyodorkan satu plastik rujak yang sudah dibuatnya.
1092.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.3K kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
365 Hari Jadi Istrimu

365 Hari Jadi Istrimu

Raka memilih meja di sudut yang paling gelap, terlindung oleh sekat bambu tipis. "Duduk, Ka. Jangan kaku begitu," ucap Raka sambil menarik kursi kayu. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja muncul kembali setelah bertahun-tahun menghilang dengan dendam.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 99 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Psycho Pathos

Psycho Pathos

Ia terlihat tenang membaca sebuah buku, tidak terusik sedikit pun dengan kebisingan di sekitar, sesekali matanya liar menyapu pandang ke seluruh ruang cafe. Denting pintu cafe berbunyi diiringi sepasang manusia yang masuk dan langsung memilih kursi yang berada di sudut ruangan. Posisi paling strategis untuk memperhatikan setiap pengunjung yang keluar masuk. “Kenapa kau sangat senang sekali, memilih duduk di sudut ini?” tanya Pandu pada Raksi yang sedang memilih menu untuk makan malamnya.
104.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 122 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
RACUN UNTUK MADUKU

RACUN UNTUK MADUKU

RACUN UNTUK MADUKU Bab 1 Aku merapikan tempat tidur anakku, melipat selimutnya bergambar Spiderman berwarna biru. Sesekali menepuk-nepuk bantal dan juga guling. Plok Seketika aku menoleh ke lantai membersihkan tempat tidur anakku dengan sapu lidi yang biasa aku gunakan. "Apa itu?" gumamku pelan. Lalu kembali memperhatikan benda yang tidak asing lagi di mataku. Perlahan namun pasti langkahku mendekati benda tersebut.
18.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 468 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Luka di Ujung Senja

Luka di Ujung Senja

— Di rumah, suasana seperti biasa. Tenang. Hangat. Tidak banyak kata. Tapi penuh rasa cukup. Rafa duduk di lantai lagi. Anggi di dekat jendela. Rendra dengan bukunya. — “Aku baru sadar sesuatu,” kata Rafa tiba-tiba. Mereka berdua menoleh. “Apa?” tanya Anggi. Rafa berpikir sebentar. “Dulu aku bikin Sudut Napas supaya orang punya tempat buat tenang.”
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 38 kali sebagai rak sudut
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status