Resep Rahasia Sang Pecundang
kata Luna sambil menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang dingin, menyeka keringat di dahinya.
“Ya, untuk malam ini,” sahut Radit. Ia sedang mencoba mendorong sebuah rak anggur tua yang kosong agar menempel rapat ke dinding, memberikan lebih banyak ruang. Saat ia mendorongnya, salah satu kaki rak yang sudah berkarat itu berderit dan patah. Rak itu miring dengan keras, membentur dinding di belakangnya.
KRAK!
Bukan suara kayu yang patah, melainkan suara plesteran dinding yang retak. Di balik rak yang miring itu, sebuah panel kayu yang dicat menyerupai bata tampak sedikit menonjol keluar.
Hot Chapters