Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Greedy

Greedy

ucap Rey. David menghela napas dengan lega. "Rey, kayaknya pria itu orang terdekat kamu. Aku sangat yakin itu." "Tapi siapa? Kenapa dia mau menghabisiku? Dan kenapa dia mau bekerja sama dengan pria payah seperti Alex." "Nah, itu dia yang jadi pertanyaannya." "Sebenarnya aku ada sebuah ide. Bagaimana jika kita memasang sebuah spy cam di pagar rumah. Ya, supaya kita bisa tau siapa yang sering Alex temui dan mendengar percakapan mereka," ucap Rey dengan serius.
105.5K viewsCompletedAdded to Library 120 Times as recommend
Read
+Library
Broken

Broken

ujar Andi sambil meledek Andre. “Hmm... ya udah,” respons Yandi singkat. “Ya udah... pakai aja dulu kali... entar baru ganti aja tuh buku. Dari pada nanti ada embel-embelnya,” ujar Doni memberi saran. “Gue tahu,” jawab Yandi menyetujui saran temannya. “Gak usah. Dia bukan orang yang kayak gitu, kok,” ujar Andre berusaha membela Reina.
1014.0K viewsCompletedAdded to Library 490 Times as recommend
Read
+Library
MEMORY

MEMORY

Lampu jalan yang bersinar hangat sepertinya tak cukup menerangi perjalanan gue malam ini. Ketika lampu lalu lintas berubah merah, gue ngerem dong. Gue nopang dagu karena ngantuk, sumpah dah ganteng banget gue kalau lagi kaya gini. Ah iya! Gue tadi ada beli americano di cafe gengsi, dah gue endorse jangan lupa bayarannya yak. Ada beberapa mobil yang melaju kencang, buat gue geleng-geleng kaya orang mabok.
9.93.1K viewsOngoingAdded to Library 81 Times as recommend
Read
+Library
Hoffen

Hoffen

tanya Trisha yang membuat Zhui tertawa kecil. “Tenang, jangan bingung. Vanda yang merekomendasikan kamu ke saya, jadi enggak perlu interview. Saya percaya sama Vanda,” jawab Zhui yang melihat ke arah Vanda. Vanda pun langsung mengalihkan pandangannya dengan menutup bibirnya dengan telapak tangan, Trisha pun perlahan menoleh ke arah Vanda dengan tatapan sedikit tajam.
1012.6K viewsCompletedAdded to Library 251 Times as recommend
Read
+Library
Unexpected

Unexpected

beri tahunya jujur. Batin Siska menjerit kegirangan mendengar pengakuan Mariska. “Jika kamu merasa lebih pantas bersanding dengan Felix, kenapa tidak coba untuk mendekatinya. Kamu mempunyai lekuk tubuh yang bagus, tidak ada salahnya untuk memperlihatkan kelebihanmu walau saat bekerja. Mama sangat yakin, mata laki-laki normal pasti terpesona dan tergoda oleh keindahan lekuk tubuh yang kamu miliki,” sarannya sambil tersenyum puas.
9.838.4K viewsCompletedAdded to Library 1.4K Times as recommend
Read
+Library
Seadanya

Seadanya

Buk juli ini pula tetangga yang selalu mengusik erika dan ibu. "Ya kita doakan aja toh buat erika semoga di terima", timpal buk ida Erika hanya diam tak mengubris, mungkin yang di omongkan buk juli memang benar. Erika mengambil satu ekor ikan yang keliatan segar dan bumbu lainnya. "Tumben beli ikan, biasanya tempe? " buk juli yang melihat erika mengambil ikan
102.7K viewsOngoingAdded to Library 87 Times as recommend
Read
+Library
Choice

Choice

Di tengah obrolan mereka, Reihan mengambil paper bag kecil di atas bufet lemari. “Hadiah untuk kamu.” Maya membuka paper bag kecil pemberian Reihan. Parfum. “Aku bingung harus kasih hadiah ulang tahun apa ke kamu. Jadi aku putuskan pilih parfum. Rekomendasi dari Tante Silva. Aku harap kamu suka.” ”Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi. Kamu sudah masakin, bikin kue ulang tahun, kasih hadiah pula. Terima kasih banyak sebanyak-banyaknya.”
102.5K viewsOngoingAdded to Library 61 Times as recommend
Read
+Library
Rotate

Rotate

Six menyentuh bahuku, “Berikan ia kesempatan, kalian pasti bisa menjadi teman” “Tidak terimakasih” “Hey, ayolah. Aku akan memperkenalkanmu denganya sekali lagi, Oke Three” “Haaahhh….”Aku mengembuskan udara kasar, Aku benci gadis itu, sangat. Tapi aku tak mau bertengkar dengan Six lagi. “Baiklah akan ku pikirkan” Six tersenyum senang, “Aku jamin, semua akan berjalan lancar”
3.0K viewsOngoingAdded to Library 116 Times as recommend
Read
+Library
TAKDIR

TAKDIR

Sarah segera mendekati Bude Rima dan menggandengnya menuju meja makan. “Kaki Ibu masih sakit?” Tanya Sarah kasihan melihat mertuanya yang terlihat meringis menahan sakit. Bude Rima mengangguk, ia memang masih merasakan sakit di lututnya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, memang penyakit persendian adalah yang paling sering dirasakan. “Kamu antar Ibu untuk terapi hari ini. Aku tidak bisa meminta libur lagi karena jatah cutiku sudah habis.” Kata Rahman yang sudah terlihat Rapi.
106.2K viewsOngoingAdded to Library 240 Times as recommend
Read
+Library
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status