Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Lenyap Bersama Kenangan

Lenyap Bersama Kenangan

Aku menatap jari-jarinya yang panjang, teringat bahwa di kehidupan lalu, tangan inilah yang menulis kerinduan terhadap wanita lain dalam buku hariannya. “Aku takkan pernah lupa bagaimana Yolanda berdiri di dermaga, angin laut menerbangkan gaun bermotif bunganya dan dia menangis begitu sedih.” “Terkadang, saat menatap orang yang tidur di sampingku, aku berpikir kalau saja tidak kehilangan ingatan dulu, kalau saja tak bertemu dengan Yolanda, mungkinkah hidupku sekarang akan berbeda?”
13.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 361 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Menikah dengan Pariban

Menikah dengan Pariban

Artha kembali terkejut dibuat Lisa, "siapa yang melamun? Aku hanya terkenang dengan masa kecil kita, pertemuan awal kita dulu. Sungguh aku ingin kembali kemasa itu." Memang betul kan? Artha beberapa menit lalu terkenang dengan masa kecil mereka. Itu beberapa menit lalu, sebelum itu dia kan sudah kepikiran dengan seseorang di hotel itu. "Biarlah itu menjadi kenangan jangan larut didalamnya. Kamu boleh menyimpannya tapi jangan hidup didalamnya. Sekarang fokuslah pada hari ini dan hari akan datang." Kata Lisa sambil menepuk pundak Artha.
1010.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 385 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Mak comblang with the boss

Mak comblang with the boss

Reva mencuci tangannya yang penuh busa sabun pencuci piring, bangkit berdiri dari duduknya dan menghadap Artan. "Aku tidak mengerti apa maksud anda wahai tuan Artan Narendra." "Kenapa kau tiba-tiba jadi lemot begini, sih?" ejek Artan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tidak mengerti kenapa kau bisa memikirkan hal itu? Kenapa kau berniat merencanakan untuk merenovasi rumahku?" baiklah, sepertinya Reva sudah tak tahan lagi untuk mengeluarkan emosinya.
811.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 292 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Yang Tak Kunjung Padam

Yang Tak Kunjung Padam

Pak Bambang mendongak tajam. "Maksudmu... ingatanku sengaja ditahan?" Dokter Raka menarik napas. "Menurut analisaku, ada kemungkinan besar terapimu diarahkan untuk mempertahankan lupa." Hening sejenak. "Iya, aku juga mengira begitu. Keluargaku memang tidak ingin aku kembali mengingat masa lalu." Dokter Bambang berdecak. "Oke, kalau begitu aku akan memcoba menggali ingatanmu dengan terapi reminisensi untuk merangsang ingatan melalui foto-foto dan cerita nostalgia."
1018.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 617 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Warisan Terlarang: Kontrak Darah 90 Hari

Ia mencoba lagi, memaksa otaknya untuk mengingat. Wajah ibunya. Mata teduhnya. Aroma minyak rambut kelapa yang biasa dipakai. Suara lembut yang meninabobokannya ketika kecil. Namun yang muncul hanyalah kabut. Kabut putih abu-abu, menelan setiap detail yang pernah nyata. “Jangan paksa dirimu,” suara Revan pecah dalam keheningan. “Semakin kau berusaha, semakin cepat hilangnya.”
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Membuatmu Jatuh Cinta Lagi

Membuatmu Jatuh Cinta Lagi

"Kamu mengalami amnesia retrograde." Biyan tercengang. "Dok, bukannya kalau kena amnesia aku akan lupa banyak hal? Tapi kenyatannya aku masih ingat nama, bahkan ibuku." "Amnesia retrograde bukan jenis yang bikin orang-orang kehilangan ingatan secara menyeluruh. Dalam kasus ini, kamu kehilangan sebagian ingatan," Gumilar menjelaskan. "Lebih tepatnya, kamu kehilangan persepsi waktu. Makanya saya tanya soal tahun kemarin."
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Malam Pertama yang Tertunda

Malam Pertama yang Tertunda

Arzan pun mengenang masa lalu dalam ucapannya. Sambil berjalan menaiki sedikit tanjakan, Arzan bernostalgia, mengingat kenangan masa remaja saat berwisata bersama teman-temannya ke tempat itu. Memang, keadaan beberapa tahun lalu dan sejarang benar-benar terlihat perbedaannya. Membuat Arzan sedikit bingung untuk memastikan tempat yang dulu dikunjunginya. “Wah. Dulu kayak apa tempatnya?” Nafisa kembali memfokuskan tatapannya ke Arzan. "Pasti kurang asyik!"
9.914.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 303 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Pernikahan tanpa Bahagia

Pernikahan tanpa Bahagia

Reza datang membawa dua cangkir teh. Ia duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Hening. Tapi hening yang tidak kosong. Setelah beberapa lama, Laras berbisik, “Kau pernah merindukan mereka?” Reza tahu siapa yang dimaksud — Rani dan Dimas. Selalu ada bayangan mereka dalam setiap percakapan yang tak sempat selesai, dalam setiap karya yang mereka buat. “Setiap kali aku memotret langit,” jawabnya pelan. “Tapi bukan rindu yang menyakitkan. Lebih seperti… mengingat seseorang yang mengajarkan kita arti pulang.”
1.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Retrocognition (Melihat Masa Lalu)

Retrocognition (Melihat Masa Lalu)

Ia merasa kesal, mengapa tak Mamak jelaskan saja semuanya agar lebih mudah. “Mak,” “Hmm?” “Apa benar aku hanya bisa lihat masa lalu orang waktu saling tatap mata?” “Nah, itu tau! Apa lagi?” seru Mamak girang masih dengan mulut penuh makanan. “Mmm ... yang bisa kulihat cuma masa lalu yang lagi dipikirin sama orang itu? Makanya tadi yang aku liat Mamak Bapak lagi di pelaminan.” “Cocok! Apa lagi?” Wira menggeleng. Mamak menelan nasi terkahir dalam mulutnya. Ia lalu meneguk habis segelas air mineral kemasan. “Mamak ada satu pesan buatmu, Wir,”
105.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 164 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
RADIO REKSA

RADIO REKSA

Backsound yang tadinya menghentak kini berubah ke warna musik instrumen saxophone miliknya Dave Koz, saat Reksa mulai membacakan puisi milik Jingga. “Dimana Kamu… dari Jingga. Saat kuhirup kopi kesukaan kita, sudah tak kutemukan arti manismu disampingku. Hanya tersisa pahit, sepahit kopi yang menyapa lidahku yang bisu. Saat kunyanyikan kembali lagu kita, suaraku hanya bergema dalam angan yang hampa. Tersiar namun tak terkabar. Berpencar dan perlahan pudar. Ketika bayanganmu hadir, rasanya kuingin menepis semuanya. Namun semua lakuku itu semakin membuatku tak berdaya tuk dapat melupakanmu. Dan ketika mataku terpejam, sejenak kenangan lakon kita hadir dalam slide-silde di benakku yang menampil
3.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai reminisce artinya
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status