KADO UNTUK PERNIKAHAN SUAMIKU
"Mas, aku mau pulang. Aku ga tau nanti ke sini atau tidak. Kalau kamu berani, kamu susul aku kerumah Mama dan Papa, oke!"
Bulu kudukku meremang, bertemu Pak Hadiyaksa seperti bertemu dengab debt kolektor, ada janji yang belum aku tunaikan padanya.
"Kok bengong!"
Calista menatapku lekat.
"Ga! ga kok. Anu, apa tak bisa kita tinggal disini dulu sementara sampai Mas punya uang membeli rumah untuk kita."
Calista memukul-mukul bibirnya dengan telunjuk, wajahnya seperti orang berpikir keras. Apa serumit ini menikahi anak konglomerat?