Istri Kedua Suamiku
balas Vania, berusaha tetap tersenyum.
"Adik brengsekku meneleponmu? Apa yang dia katakan? Vania, jangan sedih! Dia tidak pantas untuk kamu tangisi!"
Mendengar kata-kata Galang, Vania justru lebih merasa sedih dan ingin menangis. Entah kenapa air mata Vania tak dapat dia kendalikan, dan terus mengalir tanpa henti, saat mengingat kata-kata yang diucapkan Candra di telepon. Dia mulai mengungkit masalah rumah yang dia beli, dan haknya pada rumah itu. Dia juga meminta Vania menerima kehadiran istri kedua suaminya untuk tinggal satu rumah dengannya. Kapan Candra memahami, kalau apa yang dia lakukan padanya selama ini, benar-benar melukai hatinya, lagi dan lagi.