SUJUD TERAKHIR EMAK
Paklik Anto menaruh kembali cangkir tehnya yang sudah hampir habis, lalu menoleh perlahan ke arah Arman.
“Man,” bisiknya lirih, suaranya dibuat setenang mungkin. “Aku mau ngomong sesuatu. Jangan salah paham dulu.”
Arman menghentikan pekerjaannya, menoleh dengan heran. “Apa, Paklik?”
Paklik Anto mencondongkan tubuh, menatap Arman dengan sorot mata penuh keyakinan. “Aku lihat, Agung itu cocok sekali kalau dekat dengan Sita.”