WARISAN YANG DIRAMPAS
"Eh, maaf, Bu. Tadi saya lagi makan sama sambel terasi pas Ibu gedor-gedor pintu. Kirain ada apa-apa dengan Pak Usman. Tak tahunya dikejar penunggu pohon rambutan."
Setelah menarik tangannya, Bi Sarni tersenyum lagi, sepertinya ia merasa lucu dengan kejadian ini. Pantas saja baunya menyengat, rupanya barusan ia memegang terasi.
Dan ....
"Panas!"
Aku berteriak sambil berlari menuju westafel, segera kucuci area sekitar mulutku yang terasa panas.
"Cabenya berapa sih, Bi! Kok panas banget kena kulitku?!" Aku menggosok area bibir dengan air dan sabun pencuci piring. Karena hanya itu yang ada.
Hot Chapters