Suami Adikku Memuja Rahimku
Aku memejamkan mata, menyandarkan kepala ke sandaran ranjang.
“Aku memang nggak pernah punya banyak pilihan,” jawabku lirih. “Mas tahu itu.”
Ia terdiam. Aku bisa membayangkan ekspresinya saat ini: kening berkerut, rahang mengeras. Shaka selalu membenci rasa bersalahnya sendiri, dan entah bagaimana, kehadiranku selalu berhasil memperburuk perasaan itu.
“Jangan bicara seolah kamu korban,” katanya akhirnya, lebih karena lelah daripada marah. “Kamu tahu betul bagaimana keberadaanmu menggangguku."