Menikah Dengan Abang (Abang Angkat)
“Abang ngunciin Bang Dion di dalam kamarnya?”
“Iya. Biar dia jinak. Gak gangguin kita.”
“Abang jail banget sih?”
“Dahlah, biarin.”
“Yu?”
“Iya, Bang?”
“Lanjut yuk?!”
Aku tersenyum malu, merunduk, meremas selimut.
“Kalau diam berarti mau.” Kedua telapak tangan Abang menangkup pipiku.
Kemudian, dengan lirih kami berucap, “Bismillahi, Allahumma janibnas syaithoona wajannibis syaithoona maa rozaqtanaa, Aamiin.”