Sebuah Penyesalan
Tergopoh-gopoh Jan menggendong Paula yang tidak sadarkan diri, hingga akhirnya dia sampai di persimpangan jalan di mana bus-bus untuk pergi ke Afganistan, dan itulah tujuan utamanya.
Paula memegang kepalanya yang sudah terasa berat dan perih, darah kering terasa kasar ketika tersentuh telapak tangannya yang halus. Jan melirik padanya, "Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan ledakan yang sengaja ayahmu lakukan!" ucapnya tanpa belas kasihan. Wanita yang parasnya sempurna ini tidak berkutik, dia sekarang sudah pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Aku tidak ada maksud untuk mencelakaimu, akan tetapi aku ingin memberikan pelajaran pada Jibs, ayahmu!" sambungnya kemudian.