Agnia dan Cermin Pecah
Bukan emas, bukan permata, tapi isi kantong plastik kecil berwarna putih dari kamar nomor tiga.
Aku memilahnya dengan ujung jari yang gemetar karena antusiasme. Tisu bekas (aku menyimpannya), bungkus mie instan (rasa ayam bawang, selera yang klasik), dan... ini.
Sebuah gumpalan kertas stiker yang diremas kasar.
Aku memungutnya. Kertas ini licin. Kertas termal.
Perlahan, aku membuka remasannya. Meratakan permukaannya di atas ubin dingin dengan telapak tanganku, mendesahkan napas hangat untuk meluruskan kerutannya.
Bab Populer