Samaran Terakhir
Itu suara dari salah satu tokoh yang pernah ia buang karena ceritanya “terlalu kecil untuk dunia besar”
“Setiap rasa yang kau buang menjadi pintu bagi narasi lain yang ingin hidup,” ucap suara Narasi Purba dari kejauhan. “Tapi kamu tak pernah kembali untuk membaca mereka.”
Adrian berjalan lebih jauh, membuka satu laci paling bawah bertuliskan:
“Rasa yang Tidak Pernah Diizinkan Masuk.”
Dari laci itu, keluar bayangan dirinya sendiri versi yang lebih muda, lebih takut, lebih canggung, tapi dengan mata penuh harapan. Ia menatap Adrian, lalu berkata: