Tak Ada yang Kedua
Setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya, aku menatapnya dalam diam, mengamati setiap ekspresinya.
Kami sebaya, tapi dia jauh lebih dewasa dariku.
Saat pertama kali bertemu dengannya, dia adalah pemuda yang pemalu dan merasa tak cocok dengan lingkungan sekitarnya.
Kini, dia telah menjadi pilar utama dalam perusahaan, orang kepercayaan Ayah.
Tadi malam, setelah kembali ke rumah keluarga, Ayah mengajakku bicara lama.
Kami berbincang tentang masa depan perusahaan. Tentang masa depanku.
Hot Chapters