Takkan Kembali Lagi
Semua keluarga mafia tertua di Kota Neysa berkumpul dan setiap pria yang hadir mengenakan jas tampak begitu menghormati Reyhan.
Aku berdiri di luar kerumunan, tanpa kerudung hitam atau karangan bunga. Aku hanya berdiri di bawah pohon dengan kemeja putih bersih dan diam-diam mengucapkan selamat tinggal kepada Reyhan.
Sore harinya, aku berjalan menyusuri jalanan kota yang panjang. Bunyi sirine, roda kendaraan dan kebisingan keramaian bercampur di telingaku.