Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!
Ia menarik napas dalam, dada sesak seperti terperangkap dalam kubangan perasaan yang bercampur sedih, tapi juga marah yang mulai menggelegak di dalam.
Bibirnya tercekat, menahan kata-kata yang membakar lidah, kemarahan itu seperti bara yang bersemayam diam, menunggu saatnya untuk meledak.
Arka berdiri tegak di dekat jendela, tubuhnya kaku. Tangannya mengepal erat, kuku menekan telapak hingga sedikit memerah. Matanya menatap tajam ke gelapnya malam di luar, seolah mencari jawaban dari keremangan itu. Suaranya pelan tapi tegas saat memanggil, "Rafi."
Hot Chapters