Ranjang yang Bukan Milikku
“Kadang, warna-warna cerah bisa membawa perasaan bahagia ke dalam lukisan. Tapi semuanya terserah kamu, Lia. Ini taman bungamu. Kamu bebas memilih warna apa saja.”
Lia menghentikan gerakan kuasnya, memiringkan kepala untuk menatap Alea. “Kenapa kamu suka terapi seni, Kak Alea?” tanyanya, nadanya terdengar penuh rasa ingin tahu.
Alea tersenyum lembut, mengambil kuas kecil dari meja untuk ikut menggambar di kertas kosong. “Karena aku percaya, Lia, kalau seni bisa membantu kita mengatakan apa yang sulit kita ucapkan. Kadang, ada hal-hal yang terlalu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, tapi lewat gambar, warna, atau bentuk, kita bisa mengekspresikan semuanya.”
Hot Chapters