Selir Yang Terlupakan
Beliau menegakkan tubuh, tangannya menumpu di sandaran kursiku—sebuah isyarat perlindungan sekaligus pengakuan atas ambisiku.
"Jika kau gagal, Lianhua, tak ada ampun," tambahnya dingin. "Pengadilan akan menghancurkanmu, dan aku takkan bisa menyelamatkanmu. Itulah harga untuk berdiri di sisiku."
Nada bicaranya tajam, namun di sana tersirat rasa hormat sesama pejuang.
"Besok malam Chuntao akan datang, Xiwu sudah bersiap menyerang seperti burung nasar yang menunggu mangsa," lanjutnya. "Semuanya sudah siap berjalan sesuai rencanamu."